“Farewell”

You know, I’m not gonna leave tumblr or blogging by writing that kind of title. I just wanna take a break from it. When I come back, I’m gonna make more blogs outside tumblr and separate my tumblrs based on its function, such as fangirling, telling things about love, and so on and so forth…

First thing first, I would like to say that reviewing our own writings, whether in the blog or paper, is useful.

Saya jadi tahu siklus libur dari Hari Raya Idul Adha sampai Tahun Baru Masehi, tersenyum melihat impian yang saya reblog akan tercapai tak lama lagi, menyadari bahwa menulis (plus membaca) adalah cara terbaik saya mengeluarkan isi pikiran dan menemukan inspirasi, kembali teringat saat saya sedang merasa amat sangat takut dengan kematian, merasa beruntung telah melalui banyak hal baik dan memiliki serta mendapatkan banyak nikmat yang tidak orang lain miliki, termotivasi karena cerita-cerita dan quotes inspiratif yang saya reblog dan baca dari orang lain, merasakan indahnya hari ini, mengalami bagaimana hidup yang sekarang saya alami kadang-kadang jauh lebih baik dari apa yang dicita-citakan, dan banyak lagi perasaan lainnya karena membaca ulang tulisan-tulisan saya. —> Satu kalimat superpanjang.

Maybe now I also get it why history exists. It reminds us to learn good things and leave the bad things from the past, so that we can be better people everyday. And that’s what happen to me.

Saya melihat tulisan-tulisan saya yang jauh berubah, baik dari segi bahasa maupun konten. Saya juga sadar bahwa saya banyak melakukan reblog. Bukan berarti saya terkena writer’s block tapi saya merasa pikiran saya sudah banyak terwakili oleh posts itu. Tapi, tulisan saya  random and not everybody likes random writings. Jadi, saya pikir lebih baik menuliskan semuanya di atas kertas terlebih dahulu.

Sebelum undur diri, saya akan menuliskan bagaimana dan seberapa sering saya mengungkapan perasaan kepada seseorang yang saya sayangi di tumblr.